Perjuangan Manggala Agni dan TNI Jinakkan Bara Api Karhutla di Lahan Kering
Kalimantan - Kebakaran hutan dan lahan kembali menjadi ancaman serius pada puncak musim kemarau ini. Berdasarkan data terbaru dari Sistem Pemantauan Karhutla (SIPONGI) Kementerian Kehutanan, ratusan titik panas (hotspot) terdeteksi tersebar luas di wilayah Kalimantan, dengan konsentrasi tertinggi berada di wilayah Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.
Menanggapi situasi kritis tersebut, tim gabungan darat langsung bergerak cepat menerjang kepulan asap pekat demi memadamkan kobaran api yang melahap semak belukar dan lahan gambut yang mengering.
Di garis depan pemadaman, personel Manggala Agni dengan seragam merah khasnya berdiri bahu-membahu bersama prajurit TNI yang mengenakan pakaian loreng.
Menggunakan pompa air portabel serta peralatan manual, mereka menyusuri vegetasi lebat untuk menyemprotkan air langsung ke pusat bara api guna mencegah perluasan area yang terbakar.
Tantangan di lapangan tidaklah mudah; selain hawa panas yang menyengat ekstrem, arah angin yang sering berubah mendadak serta minimnya sumber air di lokasi terbuka menjadi hambatan utama dalam proses lokalisir api.
Komandan regu Manggala Agni di lapangan mengungkapkan beratnya perjuangan yang harus dihadapi oleh para petugas setiap harinya.
"Kondisi di lapangan sangat dinamis karena angin kencang cepat sekali memicu kepala api baru di semak belukar yang kering. Kami bersama rekan-rekan TNI fokus melakukan penyekatan dan proses mopping up (pendinginan) secara detail agar sisa bara di bawah permukaan tanah tidak kembali menyala saat malam hari. Stamina tim terus diuji, tapi kami tetap bertahan demi mengembalikan langit biru," ujarnya saat ditemui di sela-sela pemadaman.
Guna memperkuat penanganan darat ini, Mabes TNI telah mengerahkan total 14.167 prajurit di berbagai wilayah terdampak karhutla di Indonesia.
Sinergi masif ini didukung pula oleh operasi udara melalui pesawat Cassa TNI AU untuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) serta helikopter water bombing yang menyasar titik-titik terisolasi.
Melalui komitmen gotong royong lintas sektor ini, pemerintah berharap seluruh titik api dapat segera dikendalikan sebelum menimbulkan dampak kabut asap yang merugikan kesehatan masyarakat luas. (red/ist)