Gunung Anak Krakatau Semburkan ‘Air Mancur Lava’ 400 Meter, Kolom Abu Tembus 15 Km!
Selat Sunda – Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) kembali meningkat drastis. Gunung api yang berada di Selat Sunda ini dilaporkan mengalami erupsi menerus berskala besar sejak Jumat malam (4/9/2026) hingga Sabtu pagi (5/9/2026).
Letusan kali ini menyajikan fenomena alam yang mengerikan sekaligus memukau, yakni berupa lava fountain atau air mancur lava pijar.Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan bahwa air mancur lava melesat tinggi hingga 400 meter dari atas puncak kawah.
Sementara itu, berdasarkan pantauan Darwin Volcanic Ash Advisory Center (VAAC), kolom abu vulkanik sempat terdeteksi melambung sangat tinggi hingga 15 kilometer (15.000 meter) di atas permukaan laut. Akibatnya, peringatan keselamatan penerbangan (SIGMET) sempat dikeluarkan untuk wilayah ruang udara Jakarta hingga Melbourne.
Dahsyatnya letusan ini juga memicu getaran gempa menerus dengan amplitudo maksimum 70 milimeter yang berlangsung selama hampir 6 jam (21.600 detik). Dentuman dan gemuruh kuat yang bersumber dari laut tersebut terdengar jelas hingga ke Pos Pengamatan Pasauran di Serang, Banten.
"Erupsi kali ini terekam sangat kuat dan berdurasi panjang. Saking besarnya energi yang dikeluarkan, fasilitas kamera pengawas atau CCTV pemantau kami di lapangan dilaporkan rusak dan mati total pada pukul 01.01 WIB dini hari karena terkena hantaman langsung dari lontaran material batu pijar saat merekam fenomena lava fountain tersebut," ujar perwakilan petugas Pos Pengamatan Gunung Api dalam keterangan resminya, Sabtu (5/9/2026).
Hingga saat ini, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau masih bertahan di Level III (Siaga). Pemerintah mengimbau masyarakat, nelayan, dan wisatawan untuk tidak mendekati gunung dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif untuk menghindari ancaman material pijar dan hujan abu lebat.
Meski erupsinya tergolong besar, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memastikan tidak ada potensi tsunami akibat aktivitas ini. Tubuh Gunung Anak Krakatau saat ini dinilai belum cukup besar untuk memicu longsoran bawah laut seperti peristiwa tahun 2018 lalu.
Redaksi