Ironi Monas: Pekik Merdeka yang Tenggelam di Lautan Sampah
Jakarta - Pekik merdeka baru saja usai bergaung di jantung ibu kota. Langit Monumen Nasional (Monas) yang semalam menyala terang oleh panggung hiburan, ratusan booth UMKM kuliner gratis, kembang api, dan kilauan drone show, kini berganti wajah. Senin malam, 17 Agustus 2026, menyisakan pemandangan yang menyayat hati.
Di balik megahnya Pesta Rakyat HUT ke-81 RI, jejak kemerdekaan justru ternoda oleh lautan sampah yang berserakan di setiap sudut ikon bangsa ini.
Plastik pembungkus, botol minuman, dan sisa makanan menjadi saksi bisu runtuhnya kesadaran lingkungan di tengah euforia. Ironis, saat kita merayakan kebebasan dari penjajahan, kita justru menjajah ruang publik dengan keegoisan.
Monas yang seharusnya menjadi simbol martabat bangsa, mendadak berubah menjadi tempat pembuangan raksasa akibat tangan-tangan pengunjung yang enggan bertanggung jawab atas limbah mereka sendiri.
Di tengah situasi memprihatinkan ini, para petugas kebersihan bertaruh dengan waktu dan rasa lelah. Tanpa seragam dinas yang megah, mereka adalah pahlawan sunyi yang memungut sisa kesenangan warga yang memadati kawasan sejak siang hari.
"Sangat sedih melihat ini terjadi setiap tahun. Kami merayakan kemerdekaan dengan bekerja melayani ego orang-orang yang mengaku sudah merdeka tapi membuang sampah sembarangan," ujar Supriatna (42), salah satu petugas lapangan Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta saat diwawancarai di sela-sela menyapu area pelataran Monas.
Narasi keprihatinan ini menjadi tamparan keras bagi kita semua sebagai bangsa. Kemerdekaan sejati bukan hanya soal kebebasan berpesta, melainkan tentang kedewasaan dalam bersikap dan menjaga milik bersama.
Selama kita masih acuh terhadap kebersihan lingkungan, selama itu pula kita belum sepenuhnya merdeka dari belenggu keegoisan diri. Monas malam ini tidak hanya butuh dibersihkan secara fisik, tetapi juga membutuhkan refleksi mendalam dari setiap jiwa yang mengaku mencintai tanah air ini.(red)