Tangis di Balik Jendela: Perjuangan Warga Geoje Melawan Banjir Bandang
Geoje – Hujan lebat ekstrem yang mengguyur Kota Geoje, Provinsi Gyeongsang Selatan, Korea Selatan, telah mengubah pusat kota yang biasanya tenang menjadi jalur aliran lumpur raksasa yang sangat mencekam.
Curah hujan yang memecahkan rekor hingga melampaui 800 mm dalam tiga hari berturut-turut telah melumpuhkan total seluruh aktivitas publik dan menenggelamkan puluhan kendaraan warga.
Pemandangan kota kini sangat memprihatinkan, dipenuhi oleh kepungan air cokelat pekat berarus sangat deras yang menghanyutkan apa saja di jalanan.
Bencana ini tidak hanya menghancurkan infrastruktur kota, tetapi juga membawa duka mendalam yang menyayat hati akibat munculnya korban jiwa. Sebuah tanah longsor yang dipicu oleh kejenuhan tanah secara mendadak runtuh dan menghantam sebuah kompleks apartemen di Okpo-dong, mengubur lantai dasar dan merenggut satu nyawa penduduk setempat.
Di tengah situasi darurat yang mencekam dan penuh kepanikan tersebut, tangisan serta kekhawatiran mendalam menyelimuti para korban yang terisolasi.
Salah satu organisasi kemanusiaan global yang bergerak cepat di lokasi, World Water Council (WWC), langsung menyuarakan keprihatinan mendalam mereka terkait bencana hidrometeorologi ini.
"Tragedi memilukan di Geoje adalah alarm keras bagi kita semua mengenai ancaman nyata krisis iklim global. Diperlukan sinergi konkret dalam pengelolaan sumber daya air darurat dan penguatan infrastruktur kota yang tangguh agar keselamatan jiwa manusia tidak terus menjadi taruhan di masa depan" ujar perwakilan lembaga tersebut.
Hingga saat ini, ratusan warga masih terjebak di dalam rumah serta kendaraan mereka yang terkepung banjir.
Tim penyelamat dan pemadam kebakaran terus berpacu dengan waktu di bawah guyuran hujan yang belum mereda demi mengevakuasi lansia dan anak-anak ke tempat pengungsian yang lebih aman.(red/ist)