Serangan "Double-Tap" Rusia Hantam Pusat Perbelanjaan Ukraina, 16 Tewas dan Ratusan Terluka

Serangan "Double-Tap" Rusia Hantam Pusat Perbelanjaan Ukraina, 16 Tewas dan Ratusan Terluka
Militer Rusia melancarkan serangan pesawat tanpa awak (drone) ke pusat perbelanjaan terbesar di kota Kryvyi Rih, kota kelahiran Presiden Volodymyr Zelenskyy. (Source: Ist)
Spot Iklan Tersedia (Posting Atas)

Kryvyi Rih – Sebuah tragedi kemanusiaan kembali mengguncang Ukraina setelah militer Rusia melancarkan serangan pesawat tanpa awak (drone) ke pusat perbelanjaan terbesar di kota Kryvyi Rih, kota kelahiran Presiden Volodymyr Zelenskyy. 

Spot Iklan Tersedia (Artikel 1)

Insiden mematikan yang terjadi pada Jumat sore ini menewaskan sedikitnya 16 orang dan melukai lebih dari 130 orang lainnya, termasuk puluhan anak-anak.

Rusia menggunakan taktik keji bernama "double-tap". Taktik ini berupa serangan gelombang kedua yang dijatuhkan sengara sengaja sekitar 30 menit setelah ledakan pertama, tepat saat tim medis dan petugas penyelamat (first responders) tiba di lokasi untuk mengevakuasi korban.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, mengutuk keras serangan di kampung halamannya tersebut. Melalui pernyataan resminya, ia menegaskan bahwa aksi pengeboman di tengah hari saat mall sedang ramai merupakan tindakan teror murni.

"Serangan seperti ini tidak lain adalah tindakan teroris. Dunia harus meresponsnya dengan tekanan nyata terhadap agresor. Rusia harus menghadapi akuntabilitas yang nyata agar perdamaian bisa terwujud," tegas Zelenskyy lewat akun Telegram resminya.

Kepala Dewan Pertahanan Kryvyi Rih, Oleksandr Vilkul, menjelaskan bahwa sistem pertahanan udara sempat kesulitan mendeteksi datangnya ancaman karena unit drone diledakkan dalam mode senyap.

"Drone jenis Shahed bertenaga jet ini terbang dengan ketinggian yang sangat rendah, sehingga berhasil menghindari radar pertahanan udara kami sebelum menghantam atap kompleks," ujar Vilkul kepada media setempat.

Kondisi di lapangan dilaporkan sangat kritis dengan asap hitam pekat yang membubung tinggi dari puing-puing bangunan komersial yang runtuh. 

Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, turut mendesak komunitas internasional untuk segera mengirimkan tambahan sistem pencegat rudal guna melindungi warga sipil.

"Serangan "double-tap" yang biadab ini sengaja dirancang untuk memaksimalkan jumlah korban sipil. Ini membuktikan status Rusia sebagai negara teroris," pungkas Sybiha. (red/ist)