Jeritan dari Riung: Penyintas Gempa NTT Menanti Logistik di Pinggir Jalan

Jeritan dari Riung: Penyintas Gempa NTT Menanti Logistik di Pinggir Jalan
Laporan media internasional menyoroti penanganan pascagempa M7,7 di Flores, NTT, di mana ribuan warga terdampak dilaporkan masih menantikan bantuan logistik. (Instagram/@aljazeeraenglish) / (Source IG)
Spot Iklan Tersedia (Posting Atas)

Manggarai - Hari-hari pascagempa bumi dahsyat bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), menyisakan duka mendalam bagi ribuan penyintas. Hingga Kamis (20/8/2026), kondisi warga terdampak di Desa Riung, Kabupaten Manggarai, dilaporkan kian memprihatinkan karena belum tersentuh bantuan secara merata. 

Spot Iklan Tersedia (Artikel 1)

Keterbatasan bahan pangan, krisis air bersih, dan ketiadaan tempat beralih yang layak memaksa warga memasang papan darurat di tepi jalan utama. Papan tersebut menjadi jeritan langsung mereka yang tertulis jelas: "KAMI SANGAT2 BUTUH BANTUAN".

Kondisi kritis ini turut menarik perhatian dunia internasional. Reporter lapangan stasiun televisi Al Jazeera, Jessica Washington, yang turun langsung ke lokasi bencana menggambarkan situasi pilu di titik pengungsian mandiri tersebut.

"Bantuan memang sudah mencapai beberapa komunitas di Manggarai, tetapi tidak untuk semuanya. Warga di desa ini mengaku belum menerima bantuan apa pun. Mereka sangat kekurangan makanan, obat-obatan, dan terutama air bersih," lapor Jessica Washington dalam siaran langsungnya dari lokasi terdampak.

Penyintas di Desa Riung kini terpaksa membangun tenda seadanya dari bambu dan terpal plastik berlubang. Mereka berjuang melawan cuaca ekstrem, di mana suhu sangat menyengat saat siang hari dan dingin menusuk pada malam hari. 

Keterbatasan ini membuat kelompok rentan, khususnya anak-anak, mulai terserang berbagai penyakit. Sementara itu, stok beras milik warga terus menipis.

Menanggapi situasi darurat ini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama jajaran pemerintah daerah terus mempercepat proses penanganan. 

Pemerintah pusat telah memobilisasi personel gabungan yang terdiri atas sekitar 1.800 anggota TNI dan Polri ke titik-titik bencana. Tugas utama tim gabungan ini adalah mengawal, memverifikasi data korban, serta mempercepat distribusi bantuan logistik ke area terisolasi.

Namun, operasi kemanusiaan ini menghadapi tantangan geografis yang berat. Akses jalan darat menuju pelosok Manggarai banyak yang terputus akibat longsoran batu besar. Jarak antar-komunitas pengungsi yang berjauhan juga memperlambat pergerakan truk pembawa bantuan. 

Pemerintah berjanji akan terus memaksimalkan jalur alternatif guna memastikan seluruh logistik darurat dapat segera sampai ke tangan warga yang membutuhkan.(red/ist)