Langit Kalimantan Meredup, Kabut Asap Karhutla Mulai Cekik Kesehatan Anak-Anak
Banjarbaru - Langit Kalimantan kembali meredup. Bukan karena mendung tanda hujan akan turun, melainkan akibat kepungan kabut asap pekat sisa pembakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian mencekik.
Memasuki pertengahan Agustus 2026, kondisi di lapangan makin memprihatinkan karena asap tebal mulai merenggut hak anak-anak untuk menghirup udara bersih secara bebas.Bau menyengat belerang dan kayu terbakar kini menjadi hidangan sehari-hari yang harus dihirup warga.
Di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, jarak pandang pada pagi hari merosot tajam hingga di bawah 500 meter. Suasana kota tampak mencekam, mirip kota mati berselimut kabut putih yang perih di mata.
Anak-anak sekolah terpaksa berangkat menembus pekatnya asap dengan wajah tertutup masker, sementara ruang-ruang kelas harus ditutup rapat agar debu sisa pembakaran tidak masuk.
Kondisi memprihatinkan ini ditegaskan oleh pihak berwenang yang terus berjibaku di lapangan. Tim penyelamat dan pemadam kebakaran kini harus bekerja ekstra keras karena api sudah masuk ke dalam lapisan tanah gambut yang sangat dalam.
"Tim Satgas penanganan karhutla, baik tim darat maupun udara, terus berupaya memadamkan api di sejumlah provinsi terdampak," ujar Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, dalam keterangan tertulisnya pada Kamis (20/8/2026).
Disebut Puskesmas dan rumah sakit di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah mulai kebanjiran pasien anak yang terserang Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Mereka datang dengan keluhan batuk tanpa henti, mata merah, hingga sesak napas akut. Jika hujan tidak kunjung turun dalam minggu ini, para orang tua khawatir anak-anak mereka akan menghadapi krisis kesehatan yang jauh lebih fatal. (red)