Pimpin Aksi "Merebut Kemerdekaan", Ketua BEM UI Kritik Pedas Kebijakan Pemerintah

Pimpin Aksi "Merebut Kemerdekaan", Ketua BEM UI Kritik Pedas Kebijakan Pemerintah
Foto Source IG @bem_ui
Spot Iklan Tersedia (Posting Atas)

Jakarta – Ribuan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) bersama Front Mahasiswa Nasional (FMN) dan aliansi sipil menggelar unjuk rasa besar-besaran di kawasan Jalan Jenderal Sudirman hingga depan UOB Plaza, Jakarta Pusat, pada Selasa (18/8). Aksi turun ke jalan bertajuk "Merebut Kemerdekaan" ini sengaja dihelat sehari setelah perayaan HUT ke-81 RI guna mengkritik keras jalannya roda pemerintahan. Mahasiswa membawa delapan poin tuntutan rakyat yang menyoroti kegagalan pemerintah dalam mengelola sektor ekonomi, hukum, tata kelola negara, hingga represi ruang sipil.

Spot Iklan Tersedia (Artikel 1)

Massa aksi yang mengenakan jaket almamater kuning khas UI mulai memadati area Sudirman sejak siang hari. Langkah kaki mereka untuk mencapai titik pusat aksi di Bundaran Hotel Indonesia (HI) langsung tertahan oleh barikade ketat aparat kepolisian yang bersiaga. Ketegangan pun sempat memuncak di kawasan Dukuh Atas ketika ratusan mahasiswa mencoba merangsek maju menembus blokade petugas.

Aksi saling dorong dan adu mulut antara korlap mahasiswa dengan petugas tidak dapat dihindarkan. Pihak kepolisian bersikeras melakukan pembatasan akses jalan dengan alasan untuk mencegah kemacetan total lalu lintas, serta demi menjaga kenyamanan aktivitas ekonomi dan mobilitas para pekerja perkantoran di jantung ibu kota.

Di tengah situasi yang memanas dan kepungan barikade aparat, para pimpinan gerakan bergantian naik ke atas mobil komando. Mereka menegaskan bahwa aksi ini adalah bentuk akumulasi dari suara keputusasaan dan keresahan masyarakat kecil yang kebijakannya kerap diabaikan oleh pemerintah pusat.

"Sehari setelah seremoni kenegaraan itu digelar, kami turun ke jalan bukan untuk ikut dalam pesta perayaan. Tapi kami datang untuk bertanya dengan lantang, kemerdekaan macam apa yang sedang kita rayakan jika kedaulatan hari ini telah digadaikan melalui berbagai perjanjian dagang yang tunduk pada kepentingan asing? Lapangan kerja langka, akses pendidikan mahal, dan hak suara rakyat dibungkam," tegas Ketua BEM UI, Yatalathof Ma'shum Imawan, saat berorasi di tengah massa aksi, Selasa (18/8).

Aksi adu argumen yang emosional juga terjadi di baris depan pertahanan mahasiswa. Wakil Ketua BEM UI, Fathimah Azzahra, sempat terlihat menangis saat berhadapan langsung dengan jajaran Polres Metro Jakarta Pusat demi menuntut hak konstitusional mahasiswa dalam menyampaikan pendapat di ruang publik. Fathimah menyatakan bahwa mahasiswa tidak pernah takut dengan pengadangan aparat, namun mereka tetap mengutamakan keselamatan rekan-rekan mahasiswa yang posisinya kian terhimpit di sela-sela blokade beton kepolisian.

Selain menuntut penurunan harga bahan pokok dan BBM, aliansi mahasiswa UI secara tegas mendesak pemerintah mengevaluasi total Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dinilai merugikan masyarakat adat.

Mereka juga meminta penghentian program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) karena dianggap memboroskan APBN dan mengorbankan anggaran transfer daerah yang krusial. Poin krusial lain dalam tuntutan mereka adalah penolakan terhadap militerisme di ranah sipil dengan mendesak pembubaran Yonif Teritorial Pembangunan (Yon TP), serta desakan penetapan status bencana nasional untuk wilayah Sumatra dan Flores. Setelah menyampaikan semua pernyataan sikap, massa aksi akhirnya membubarkan diri secara tertib menjelang petang hari. (red/ist)