Saat Kursi VIP Gedung Sate Milik Tukang Sapu: Menangis Haru di Hari Kemerdekaan
Bandung - Gedung Sate bersolek megah. Bendera merah putih berkibar gagah menyambut HUT ke-81 RI. Pejabat datang memakai baju adat terbaik. Namun, ada yang berbeda hari ini. Barisan depan tidak diisi elit politik. Kursi VIP justru dipenuhi wajah-wajah lelah yang biasanya tidak terlihat.
Mereka adalah petugas kebersihan, petani, dan ojek online. Langkah kaki mereka tegap mengikuti parade, memecah keheningan pelataran pusat pemerintahan Jawa Barat.
Pemandangan ini menyisakan haru sekaligus keprihatinan mendalam. Selama puluhan tahun, mereka yang berkeringat di jalanan selalu berada di pinggiran sejarah. Tubuh mereka legam terbakar matahari demi memastikan kota tetap bersih.
Namun, nama mereka jarang disebut dalam pidato kenegaraan. Mereka kerap terlupakan di tengah riuhnya pesta kemerdekaan. Hari ini, Kang Dedi Mulyadi (KDM) membalikkan keadaan.
Kursi empuk pejabat diserahkan kepada pahlawan tanpa tanda jasa ini. Sebuah tamparan keras bagi sistem yang sering abai pada rakyat kecil.
Di tengah jalannya parade, seorang petugas kebersihan menyeka keringat dengan haru. Matanya berkaca-kaca menatap panggung utama.
"Saya biasa bersihkan sampah di depan gedung ini tiap subuh. Tidak pernah mimpi bisa duduk di kursi empuk VIP dan ikut parade. Merdeka itu ternyata begini, saat kami yang kecil akhirnya dianggap ada dan dihargai," ujarnya dengan suara bergetar menahan tangis.
Narasi ini bukan sekadar panggung politik. Ini adalah cermin besar bagi kita semua. Mengapa butuh waktu lama hanya untuk memberikan tempat layak bagi mereka yang berjasa. Keprihatinan ini harus jadi momentum perubahan. Kemerdekaan sejati bukan milik mereka yang berdasi, melainkan milik setiap jiwa yang tulus membangun negeri dari bawah.(red/ist)