Salut! Puluhan ODGJ di Bekasi Berebut Jadi Petugas Upacara HUT ke-81 RI
Bekasi – Suasana khidmat menyelimuti lapangan Yayasan Jamrud Biru di Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi, pada Senin pagi, 17 Agustus 2026. Di bawah terik matahari, sebanyak 85 pasien Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) berdiri tegap mengikuti upacara bendera memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Mengenakan pakaian adat dan seragam rapi, mereka membuktikan bahwa keterbatasan mental bukan penghalang untuk mencintai tanah air.Menariknya, seluruh petugas upacara—mulai dari komandan, pengibar bendera, hingga pembaca teks Proklamasi—adalah para pasien itu sendiri.
Mereka yang terlibat merupakan pasien "zona hijau" atau mereka yang kondisinya sudah stabil dan dalam proses pemulihan untuk kembali ke masyarakat. Suasana haru menyeruak saat bendera Merah Putih perlahan dinaikkan diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya yang dinyanyikan lantang oleh para peserta.
Tentu saja, melatih para penyandang disabilitas mental ini bukan perkara mudah. Dibutuhkan kesabaran ekstra untuk memandu mereka agar bisa berbaris dengan tertib dan menghafal seluruh rangkaian acara tata upacara bendera.
Faktor emosi dan fokus yang mudah terdistraksi menjadi tantangan terbesar bagi para pendamping panti selama masa persiapan.
Suhartono, Pendiri Yayasan Jamrud Biru, mengungkapkan perjuangan berat sekaligus rasa bangganya saat diwawancarai di lokasi acara.
"Tantangan terbesarnya ada pada ingatan mereka. Kami harus melatih mereka enam kali seminggu karena ingatan mereka sering hilang-timbul. Kadang saat latihan mereka tiba-tiba berhalusinasi atau lupa harus melangkah ke mana. Tapi antusiasme mereka luar biasa, bahkan mereka sampai berebut untuk bisa jadi petugas upacara hari ini. Ini bukti mereka punya semangat pulih yang tinggi." ujarnya.
Bagi pihak yayasan, upacara bendera ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan bagian dari terapi psikososial.
Kegiatan ini dirancang untuk melatih kembali daya ingat, konsentrasi, kedisiplinan, serta kemampuan motorik pasien dalam merespons instruksi.
Suksesnya upacara ini menjadi modal kepercayaan diri yang besar bagi para pasien untuk bersosialisasi kembali.
Setelah upacara selesai, keceriaan mereka berlanjut dengan mengikuti berbagai lomba khas 17-an, seperti lomba makan kerupuk dan catur, yang disambut dengan gelak tawa bahagia. (red/ist)