Krisis Air Bersih Meluas, Puluhan Ribu Warga Kabupaten Bekasi Menjerit di Puncak Kemarau
Bekasi — Dampak ekstrem dari puncak musim kemarau panjang kian memperparah krisis lingkungan di wilayah Jawa Barat. Hingga akhir Agustus 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi mencatat bahwa bencana kekeringan telah meluas secara masif dan melanda 45 desa yang tersebar di 12 kecamatan.
Berdasarkan data termutakhir yang dirilis posko kedaruratan, sedikitnya 68.577 jiwa atau setara dengan 22.381 kepala keluarga (KK) kini kehilangan akses stabil terhadap air bersih untuk menopang kebutuhan hidup mendasar mereka sehari-hari.
Kecamatan Cibarusah, Bojongmangu, dan Serang Baru menjadi wilayah di zona selatan Bekasi yang menanggung beban penderitaan paling berat. Di Kecamatan Cibarusah sendiri, petaka kekeringan dilaporkan mengunci 60 titik lokasi.
Sumur bor milik warga yang biasanya menjadi andalan kini telah surut total, menyisakan debu gersang dan tanah yang mulai merekah. Aliran Sungai Cipamingkis yang melintasi kawasan tersebut pun terpantau mengering tanpa menyisakan aliran air sama sekali.
Di tengah situasi yang kian pelik, jerit dan keluhan langsung dari masyarakat terdengar makin nyaring. Aminah (44), salah seorang warga di Desa Ridogalih, Kecamatan Cibarusah, membeberkan kepedihan yang harus ia lalui bersama keluarganya demi bertahan di tengah krisis.
"Sudah hampir satu bulan ini sumur di rumah sama sekali tidak keluar air, mas. Untuk memasak, mandi, dan mencuci baju, kami cuma bisa pasrah menunggu kiriman bantuan tangki dari pemerintah," keluh Aminah saat ditemui di tengah antrean jeriken.
"Kalau bantuan terlambat datang, terpaksa kami harus menyisihkan uang belanja untuk membeli air galon isi ulang atau terpaksa berjalan kaki ke kubangan sungai yang masih tersisa, walaupun airnya keruh." Katanya lebih lanjut.
Menanggapi eskalasi bencana ini, Pemerintah Kabupaten Bekasi telah menetapkan status siaga darurat. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bekasi, Dodi Supriyadi, menegaskan bahwa seluruh instansi gabungan terus bergerak cepat di lapangan demi menahan dampak buruk kekeringan agar tidak semakin meluas.
"Semua armada tangki dari BPBD, PDAM Tirta Bhagasasi, hingga relawan PMI Pusat terus dikerahkan secara bergiliran ke 192 titik lokasi kejadian," jelas Dodi Supriyadi saat mengonfirmasi pergerakan logistik.
"Hingga hari ini, total lebih dari 5,7 juta liter air bersih telah disalurkan. Tantangan kami saat ini adalah keterbatasan toren penampung di tingkat RT/RW agar pembagian air bisa berjalan lebih optimal dan merata." Sambung Dodi.
Krisis ini tidak hanya mengancam sektor domestik warga, melainkan juga memukul telak sektor pertanian regional yang mengancam ketahanan pangan. Tercatat, sekitar 1.827 hektare lahan sawah di Kabupaten Bekasi kini mengalami kekeringan ekstrem dan terancam gagal panen (puso) akibat menyusutnya pasokan air irigasi makro.
Sebagai langkah penyelamatan darurat, Pemkab Bekasi mulai memasang puluhan pompa air di sekitar aliran sungai yang masih menyisakan debit air serta berencana mempercepat pembuatan sumur bor satelit baru di titik-titik pemukiman terpadat. Warga di wilayah perkotaan maupun pedesaan pun diimbau kuat untuk terus menghemat penggunaan air baku selama masa paceklik kemarau ini berlangsung. (red/ist)
Redaksi