Sungai Barito Mengering Akibat Kemarau, Berubah Jadi 'Gurun Pasir' dan Lumpuhkan Pelayaran

Sungai Barito Mengering Akibat Kemarau, Berubah Jadi 'Gurun Pasir' dan Lumpuhkan Pelayaran
Source: IG
Spot Iklan Tersedia (Posting Atas)

Barito Selatan – Dampak puncak musim kemarau ekstrem di Provinsi Kalimantan Tengah kian mengkhawatirkan. Fenomena langka kini melanda Sungai Barito, salah satu sungai terbesar dan terlebar di Indonesia. Debit air di aliran sungai tersebut menyusut drastis hingga memunculkan hamparan daratan pasir luas yang menyerupai bentang alam gurun.

Spot Iklan Tersedia (Artikel 1)

Berdasarkan pantauan di lapangan, pemandangan kering kerontang ini terlihat sangat jelas di bawah kawasan Jembatan Kalahien, Kabupaten Barito Selatan. Area yang biasanya dipenuhi aliran air sedalam belasan meter kini berubah menjadi daratan pasir dan lumpur mengeras. 

Fenomena ini bahkan dimanfaatkan warga sekitar untuk berjalan kaki hingga ke tengah jalur sungai yang mengering.

Kondisi kritis ini langsung memukul sektor logistik dan perekonomian regional. Alur transportasi air komersial, termasuk kapal-kapal barang dan tongkang pengangkut komoditas utama seperti batu bara, kini dilaporkan lumpuh total. Banyak armada kapal terpaksa lego jangkar atau kandas karena kedalaman air tidak lagi aman untuk pelayaran.

Seorang warga setempat mengungkapkan kekhawatirannya atas kondisi alam yang kian memburuk dalam beberapa pekan terakhir.

"Surutnya Sungai Barito kali ini adalah yang paling parah sejak awal Agustus. Kondisi kering ini mengubah bentang alam dan otomatis menghentikan aktivitas transportasi air. Banyak kapal barang dan tongkang besar yang terjebak, tidak bisa melintas karena kedalaman air tidak lagi mencukupi untuk dilewati," ujar Rudi Hermansyah, salah satu warga terdampak.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memaparkan bahwa fenomena surut ekstrem ini dipicu oleh intensitas curah hujan di wilayah hulu yang masuk kategori sangat rendah atau di bawah normal. Keadaan diperparah oleh tingginya sedimentasi di dasar sungai yang membuat pendangkalan terjadi jauh lebih cepat saat debit air berkurang.

Pemerintah daerah setempat mengimbau masyarakat di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito untuk menghemat penggunaan air bersih. Warga juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang rentan meluas di tengah cuaca panas ekstrem ini. (red/ist)