Air Mata di Ruang PICU: Berbenah Demi Senyum Anak Bangsa
Medan - Suasana ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU) RSU Haji Medan mendadak hening. Di atas ranjang, seorang siswi terbaring lemah dengan selang medis menempel di tubuhnya. Di samping tempat tidur, sang ibu tak mampu membendung air mata.
Tangisan itu pecah, bercampur rasa takut dan amarah mendalam. "Anak saya pergi ke sekolah untuk belajar, bukan untuk terbaring lemas seperti ini!" serunya dengan suara bergetar saat melihat rombongan pejabat datang menjenguk.
Di hadapan pemandangan pilu itu, Kepala Badan Gizi Nasional, Sudaryono berdiri terpaku dengan gestur tertunduk dalam. Di balik sorot matanya, ada badai perasaan berkecamuk hebat—perpaduan rasa sedih melihat anak menderita dan marah besar atas kelalaian fatal di lapangan.
Di ruang sunyi itu, ego jabatan runtuh. Yang tersisa hanyalah empati mendalam seorang pemimpin yang merasakan hancurnya hati orang tua korban.
Melihat kondisi kritis tersebut, wartawan segera menghampiri Kepala BGN untuk meminta keterangan langsung.
"Pak, bagaimana tanggapan Anda melihat kondisi korban dan luapan emosi keluarga?" tanya wartawan dengan nada mendesak.
Dengan wajah sedih, Kepala BGN menjawab, "Hati saya hancur. Perasaan saya campur aduk antara sedih melihat anak-anak kita seperti ini, dan marah besar atas kelalaian yang terjadi. Saya tidak menoleransi kecerobohan sekecil apa pun."
Wartawan kemudian mengejar dengan pertanyaan krusial, "Langkah konkret apa yang langsung diambil?"
Kepala BGN menegaskan, "Hari ini juga, dapur SPPG terkait kami tutup total. Kepala satuannya saya copot untuk proses pemberhentian tidak hormat. Ini pelajaran sangat keras bagi kami. Nyawa anak-anak adalah hukum tertinggi. Kami merombak total pengawasan rantai pasok makanan agar tidak ada lagi air mata orang tua yang tumpah karena kelalaian." ujar Kepala BGN tegas.
Tetes air mata di ruang PICU menjadi alarm keras bagi program nasional. Ini bukan lagi soal angka distribusi, melainkan tentang menjaga amanah dan masa depan generasi bangsa.
Sebelumnya sebanyak hampir 361 siswa di Berastagi diduga kuat mengalami keracunan usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) Kamis (13/8). Para korban langsung dilarikan ke rumah sakit setelah mengeluhkan gejala mual, muntah, hingga sesak napas. (red)