BMKG Beri Peringatan Dini: El Niño Kuat Picu Kekeringan Ekstrem Meluas di Indonesia
Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait ancaman kekeringan ekstrem yang meluas di berbagai wilayah Indonesia pada pertengahan Agustus 2026. Fenomena El Niño dengan kategori kuat yang dipadukan dengan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif menjadi pemicu utama berkurangnya curah hujan secara drastis.
Dampak krisis air ini kini mulai mengancam ketahanan pangan nasional akibat risiko gagal panen serta menyulitkan pasokan air bersih harian bagi jutaan warga.Berdasarkan data terkini dari BMKG, sebanyak 76,5 persen Zona Musim (ZOM) di Indonesia telah resmi memasuki masa kemarau.
Kondisi paling parah tercatat di wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, di mana Hari Tanpa Hujan (HTH) ekstrem dilaporkan telah berlangsung selama puluhan hari. Di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, misalnya, durasi wilayah tanpa hujan bahkan telah menembus angka 84 hari berturut-turut.
"Kombinasi antara anomali suhu muka laut Pasifik yang mengindikasikan fenomena El Niño kuat serta IOD positif di Samudra Hindia secara drastis menekan suplai uap air di atmosfer kita. Akibatnya, pertumbuhan awan hujan menjadi sangat minim, dan musim kemarau tahun ini terasa jauh lebih kering sekaligus lebih membara jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya," ujar Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, dalam konferensi pers daring di Jakarta.
Dampak dari cuaca ekstrem ini dirasakan langsung oleh masyarakat di sektor pertanian dan kebutuhan domestik. Ribuan hektare lahan sawah di Pulau Jawa kini mengalami retak-retak akibat tidak mendapatkan pasokan irigasi yang memadai.
Sementara itu, warga di daerah pelosok terpaksa mengantre hingga berjam-jam atau berjalan kaki sejauh beberapa kilometer demi mendapatkan bantuan air bersih dari tangki Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Sumur-sumur galian milik penduduk setempat dilaporkan telah mengering total sejak awal bulan ini.
Pemerintah bersama BMKG kini tengah mengintensifkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau penyemaian awan buatan untuk memicu hujan di sekitar area waduk dan bendungan strategis.
Selain krisis air, otoritas terkait meminta warga mengantisipasi lonjakan penyakit saluran pernapasan (ISPA) akibat debu yang pekat dan menjaga kebersihan lingkungan guna mencegah kebakaran hutan yang mengintai lahan-lahan kering. (red/ist)