Muktamar Ke-35 NU: KH Miftachul Akhyar Kembali Terpilih Sebagai Rais Aam PBNU Periode 2026–2031

Muktamar Ke-35 NU: KH Miftachul Akhyar Kembali Terpilih Sebagai Rais Aam PBNU Periode 2026–2031
KH Miftachul Akhyar. (Source @nuonline)
Spot Iklan Tersedia (Posting Atas)

Jombang — KH Miftachul Akhyar secara resmi kembali ditetapkan sebagai Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmah 2026–2031. Keputusan tertinggi kepemimpinan spiritual ini diketuk secara mufakat dalam Sidang Pleno V Muktamar ke-35 NU yang berlangsung khidmat di Gedung Serbaguna (GSG) Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.

Spot Iklan Tersedia (Artikel 1)

Kiai Miftah terpilih melalui mekanisme musyawarah mufakat oleh sembilan ulama sepuh yang tergabung dalam tim Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA). Sistem AHWA ini mengandalkan kearifan para kiai sepuh yang telah dipilih sebelumnya oleh Pengurus Wilayah (PWNU) dan Pengurus Cabang (PCNU) se-Indonesia. Kembalinya Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya ini ke puncak kepemimpinan tertinggi PBNU sekaligus memperpanjang estafet pengabdiannya yang sudah berjalan sejak tahun 2018 menggantikan KH Ma'ruf Amin.

Diwarnai Dinamika "Masa Idah Politik"

Perjalanan sidang pleno di arena muktamar sempat berjalan alot dan diwarnai riak protes dari sejumlah simpatisan terkait syarat pencalonan. Muktamar ke-35 kali ini memang menerapkan aturan ketat, salah satunya regulasi mengenai "Masa Idah Politik", yakni larangan bagi pengurus parpol aktif untuk mencalonkan diri minimal satu tahun sebelum pelaksanaan muktamar.

Meski situasi di luar ruangan sempat memanas karena perbedaan persepsi, kearifan kolektif para ulama berhasil mendinginkan suasana. Musyawarah bersama muasis dan kiai-kiai sepuh tetap dikedepankan demi menjaga marwah organisasi.

Panitia Muktamar dari unsur PBNU, Prof. Dr. Munawar Fuad Noeh, M.Ag., yang bertindak sebagai Wakil Ketua Panitia Pengarah (Steering Committee) Muktamar ke-35 NU, menjelaskan bahwa keputusan yang diambil merupakan murni hasil dari tradisinya Nahdlatul Ulama.

"Pertemuan dan konsultasi dengan para muasis serta kiai sepuh bukanlah intervensi terhadap hak suara muktamirin. Ini adalah khazanah dan tradisi panjang NU dalam mengurai kebuntuan (deadlock) ketika ada dinamika forum yang menajam. Terpilihnya kembali Kiai Miftah membawa mandat besar agar syuriyah merangkul kembali seluruh potensi yang sempat berserak demi kemaslahatan umat," ujar Prof. Munawar Fuad Noeh saat diwawancarai di sela-sela rehat persidangan.

Mengembalikan Supremasi Kiai Sepuh

Muktamar Jombang 2026 ini juga mencatatkan sejarah baru karena mayoritas pemilik suara sepakat untuk mengembalikan kedaulatan penentuan tampuk kepemimpinan tertinggi PBNU sepenuhnya lewat musyawarah tertutup tim AHWA, meminimalisasi pola voting langsung yang rawan gesekan politik praktis.

Dengan ketukan palu sidang tersebut, KH Miftachul Akhyar akan resmi memimpin gerbong jajaran Syuriyah PBNU lima tahun ke depan. Sesuai dengan aturan AD/ART teranyar, posisi Rais Aam tetap tegak lurus mengemban komitmen bebas dari rangkap jabatan politik, memperkuat posisi NU sebagai jangkar moral bansa di atas kepentingan politik praktis.(red/ist)