Iran Ancam Anggap Musuh Negara yang Ikut Perang Ekonomi AS

Iran Ancam Anggap Musuh Negara yang Ikut Perang Ekonomi AS
Rudal Iran- Photo by Moslem Daneshzadeh on Unsplash
Spot Iklan Tersedia (Posting Atas)

Teheran — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali membara setelah Pemerintah Iran secara terbuka mengancam akan mengategorikan negara mana pun sebagai musuh jika terlibat dalam agenda perang ekonomi yang digalang oleh Amerika Serikat (AS). Pernyataan keras ini merespons langkah agresif Washington yang terus memperluas sanksi ekonomi dan finansial global untuk mengisolasi Teheran.

Spot Iklan Tersedia (Artikel 1)

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, menegaskan bahwa negaranya tidak akan tinggal diam melihat kedaulatan ekonomi ditekan. Ia memperingatkan negara tetangga di kawasan Teluk untuk tidak memfasilitasi kepentingan AS demi menghindari konsekuensi serius.

"Jika ada negara di kawasan ini yang ikut serta dalam perang ekonomi AS dan membantu menerapkan sanksi sepihak, kami akan memperlakukan mereka sebagai musuh. Iran tidak ragu menargetkan aset ekonomi serta perusahaan minyak asing yang bekerja sama dengan Washington jika jalur ekspor minyak kami diganggu," ujar Mohsen Rezaei dalam wawancara khusus dengan media setempat.

Ancaman ini langsung memicu polarisasi global. Uni Emirat Arab (UEA) mengambil langkah mitigasi dengan mengumumkan penangguhan seluruh transaksi perdagangan dan koridor keuangan dengan Teheran. Sebaliknya, China menolak keras ajakan Gedung Putih untuk mengisolasi Iran. Beijing menilai sanksi sepihak tersebut ilegal dan memilih mempertahankan kemitraan dagang energi yang strategis.

Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, menambahkan bahwa strategi tekanan maksimum finansial Washington selalu menemui kegagalan historis. Namun, ancaman blokade jalur distribusi minyak mentah di Selat Hormuz kini membuat pasar energi global bersiaga menghadapi risiko kelangkaan suplai.(red/ist)