Kepung 6 Provinsi Prioritas, 2.610 Titik Api Karhutla Picu Darurat Kabut Asap

Kepung 6 Provinsi Prioritas, 2.610 Titik Api Karhutla Picu Darurat Kabut Asap
source: istimewa
Spot Iklan Tersedia (Posting Atas)

Jakarta – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kian mengkhawatirkan memasuki akhir Agustus 2026. Berdasarkan data terbaru yang dihimpun Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sebanyak 7.334 titik panas (hotspot) dan 2.610 titik api (firespot) kini mengepung enam provinsi prioritas. Cuaca kering ekstrem memicu perluasan area terdampak hingga menyentuh angka 74.868 hektare.

Spot Iklan Tersedia (Artikel 1)

Wilayah Kalimantan Barat menjadi titik terparah dengan indikasi lahan terbakar mencapai 38.310 hektare, disusul oleh Riau seluas 16.439 hektare. Di beberapa area seperti Kota Pontianak dan Kubu Raya, ketebalan asap bahkan memangkas jarak pandang hingga di bawah satu kilometer.

Merespons situasi darurat ini, pemerintah pusat memperkuat sinergi operasi darat dan udara secara masif. BNPB bersama instansi terkait telah mengerahkan puluhan helikopter untuk pengeboman air (water bombing) sekaligus mengintensifkan rekayasa cuaca di zona-zona kritis.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, Ph.D., menegaskan bahwa seluruh personel gabungan kini disiagakan penuh untuk mengendalikan situasi di lapangan.

"Di Kalimantan Barat kita menemukan 2.610 titik hot spot dengan fire spot sebesar 64 titik. Operasi darat penanganan karhutla kami bagi menjadi tiga tahap krusial, yaitu pemadaman, pendinginan, serta ground check. Sementara di wilayah Sumatera, tim masih memerlukan pemadaman dan pendinginan lanjutan agar api di lahan gambut tidak kembali menjalar," ujar Berton SP Panjaitan, Ph.D. (Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB) dalam konferensi pers virtual.

Selain mengerahkan lebih dari 10.700 personel gabungan TNI, Polri, dan BPBD ke titik api, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menggunakan pesawat Cassa TNI AU terus dilakukan untuk memicu hujan buatan. Langkah cepat ini diharapkan dapat segera menurunkan intensitas kebakaran sebelum puncak musim kemarau membawa dampak polusi udara yang lebih buruk bagi masyarakat luas. (red/ist)