Mengenal Potensi Bonggol Pisang Monyet sebagai Ramuan Alami Penurun Gula Darah
Jakarta – Diabetes melitus masih menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar di Indonesia. Selain pengobatan medis modern, masyarakat kini makin melirik potensi herbal lokal sebagai terapi pendamping. Salah satu yang menarik perhatian adalah pemanfaatan tanaman pisang monyet (Musa textilis atau varietas liar), khususnya bagian bonggol bawah tanah, yang dipercaya memiliki khasiat mengendalikan kadar glukosa.
Secara ilmiah, bagian bonggol pisang ini kaya akan serat larut, flavonoid, dan tanin. Senyawa aktif tersebut bekerja memperlambat penyerapan glukosa di usus serta menghambat kerja enzim alfa-glukosidase.
Hasilnya, lonjakan gula darah setelah makan dapat ditekan secara alami. Kendati demikian, masyarakat diimbau untuk tetap bijak dan tidak sembarangan meninggalkan obat-obatan resep dokter.
Kementerian Kesehatan RI pun memberikan atensi khusus terhadap tren pemanfaatan tanaman obat tradisional ini guna memastikan keamanan konsumsi di masyarakat.
"Kami mendukung penuh penelitian bahan alam seperti bonggol pisang monyet ini sebagai upaya preventif. Namun, masyarakat harus ingat bahwa herbal sifatnya mendukung, bukan menggantikan obat utama diabetes. Konsultasi dengan dokter spesialis tetap wajib dilakukan agar dosisnya tidak berbenturan dengan obat medis," ujar Dr. dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid., Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan RI.
Proses pengolahan bonggol pisang umumnya dilakukan dengan cara dibersihkan, dipotong kecil, dikeringkan, lalu direbus atau diekstrak menjadi kapsul. Edukasi masif terus diperlukan agar warga tahu batasan konsumsi herbal demi menghindari risiko hipoglikemia atau penurunan gula darah drastis yang berbahaya bagi tubuh. (red/ist)
Redaksi