Viral! Ikan Purba Oarfish Terdampar di Pantai Pink Lombok, Simak Fakta dan Penjelasan Ilmiahnya
Lombok Timur – Jagat media sosial dihebohkan dengan rekaman video yang memperlihatkan warga mengevakuasi seekor ikan purba berukuran raksasa di tepi Pantai Pink 3, Desa Sekaroh, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Biota laut langka tersebut teridentifikasi sebagai oarfish (ikan dayung) dengan panjang diperkirakan mencapai 2 hingga 4 meter.Ikan laut dalam yang memiliki bentuk tubuh pipih memanjang menyerupai pita dengan sirip merah khas di kepalanya itu ditemukan warga dalam kondisi lemas di area dangkal.
Meski sempat diangkat bersama-sama oleh warga setempat, ikan tersebut akhirnya dilaporkan mati karena tidak mampu bertahan di habitat air dangkal.Kemunculan satwa misterius ini langsung memicu kepanikan sekaligus spekulasi liar di kalangan netizen.
Banyak masyarakat mengaitkannya dengan mitos Jepang kuno yang menyebut oarfish sebagai "ikan kiamat" atau pembawa pesan akan datangnya bencana alam besar seperti gempa bumi dan tsunami dahsyat.
Menanggapi keresahan warga, Pemerintah Provinsi NTB segera turun tangan untuk memberikan klarifikasi resmi mengenai fenomena langka ini agar tidak terjadi kesimpulan yang keliru di masyarakat.
"Benar bahwa biota laut yang ditemukan warga di Pantai Pink tersebut adalah jenis oarfish. Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik dengan mengaitkan fenomena ini pada mitos-mitos bencana alam. Secara ilmiah, tidak ada bukti valid yang menghubungkan kemunculan ikan laut dalam dengan prediksi gempa bumi. Kemungkinan besar ikan ini naik ke permukaan akibat faktor alami seperti perubahan suhu arus laut dalam, kondisi fisik ikan yang sudah sakit, tua, atau tersesat setelah terbawa arus laut yang kuat," ujar Muslim, S.T., M.Si. selaku Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) saat memberikan keterangan resminya.
Berdasarkan literatur kelautan, oarfish merupakan ikan bertulang sejati terpanjang di dunia yang hidup di zona mesopelagik pada kedalaman 200 hingga 1.000 meter di bawah permukaan laut.
Karena hidup di kegelapan laut dalam, mereka sangat jarang berinteraksi dengan manusia kecuali dalam kondisi darurat ekstrem seperti stres lingkungan atau gangguan kesehatan yang membuat mereka mengapung dan terbawa arus hingga terdampar ke pesisir pantai. Saat ini, bangkai ikan tersebut telah diamankan untuk penanganan lebih lanjut sesuai prosedur konservasi laut. (red/ist)
Redaksi